Perekonomian[sunting | sunting sumber]
Pada tahun 2009, Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Ambon sebesar 5,58 persen dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,60 pada tahun 2011. Pendapatan per kapita baik berdasarkan harga konstan maupun harga berlaku juga mengalami peningkatan selama beberapoa tahun terakhir. Pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku tahun 2009 sebesar Rp 5.168.861, meningkat menjadi Rp 5.223.950 pada tahun 2010, dan diperkirakan akan meningkat lagi pada tahun 2011 menjadi Rp 5.279.625.
Jumlah jiwa dan keluarga miskin di Kota Ambon juga mengalami penurunan. Jika pada tahun 2007 jumlah jiwa miskin di Kota Ambon 45.862 jiwa, maka pada tahun 2010 turun menjadi 45.071 jiwa. Selanjutnya jumlah keluarga miskin pada tahun 2007 sebanyak 10.943 keluarga atau sebesar 17,77 persen, turun menjadi 15,72 persen atau sebanyak 10.523 keluarga pada tahun 2010.
Di sektor pertanian dan perikanan berbagai upaya yang dilakukan lewat langkah-langkah yang signifikan mampu mempercepat tingkat kesejahteraan masyarakat. Produksi pertanian tanaman pangan dan peternakan terus mengalami peningkatan, demikian pula halnya produksi perikanan pada tahun 2009 meningkat sebesar 9,99 persen dengan diikuti peningkatan nilai produksi sebesar 8,92 persen tahun 2008.
Ditambahkan, peningkatan yang telah dicapai dalam berbagai bidang pembangunan menunjukan kota ini semakin berkembang, masyarakat pun semakin maju dari tahun ke tahun
Investasi[sunting | sunting sumber]
Perikanan[sunting | sunting sumber]
Wilayah perairan Kota Ambon memiliki sumberdaya perikanan yang sangat potensial ditinjau dari besaran stok maupun peluang pemanfaatan dan pengembangannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian dan analisis terhadap kelimpahan stok potensi lestari. Untuk jenis ikan pelagis kecil kelimpahan stoknya adalah sebesar 1.470,7 ton/bln dengan potensi lestari sebesar 735,4 ton/bln, sementara pemanfaatannya sebesar 232 ton/bln. Jenis-jenis ikan pelagis kecil yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan dikembangkan adalah Stolephorus spp, Sardinela spp, Decapterus spp, Restrelliger spp serta Cypselurus spp.
Ikan pelagis besar tersebar pada wilayah ekologis pantai selatan Kota Ambon dengan kelimpahan stok sebesar 620,6 ton/bln dengan maksimum tangkap lestari (MSY) sebesar 310,3 ton/bln dimana pemanfaatannya telah mencapai 127,1 ton/bln atau sebesar 41% dari MSY. Ikan pelagis besar didominasi oleh Cakalang (Skipjack Tuna) dan Tatihu (Yellow Fin Tuna).
Investasi untuk sektor perikanan dapat dalam bentuk perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Untuk perikanan tangkap, pada bagian hulu dapat dikembangkan usaha pengadaan kapal, pasokan es dan Colt Strorage, sedangkan pada bagian hilir dapat dikembangkan usaha pengolahan komoditas kaleng, komoditas beku, dan komoditas segar. Disamping adanya kegiatan pengasapan ikan yang dapat dipasarkan untuk memasok kebutuhan lokal, regional (intra wilayah Maluku) dan nasional, selain itu juga dapat dikembangkan usaha rumah makan/restoran. Untuk perikanan budidaya usaha yang potensial dikembangkan adalah kolam pancing dan ekowisata.
Perdagangan dan jasa[sunting | sunting sumber]
Sampai dengan tahun 2008 ada tiga usaha yang menonjol yaitu, Usaha Kecil dan Menengah sebanyak 876 buah yang tersebar di Wilayah Kota Ambon, Perdagangan dan Jasa sebanyak 949 buah serta Industri sebanyak 87 buah.
Disamping itu juga untuk menunjang aktifitas perekonomian masyarakat, telah tersedia 2 buah Plaza, 7 pasar tradisional dan 1 kawasan baru untuk pengembangan pusat aktifitas perekonomian. Dengan adanya pengembangan kawasan passo sebaggai kota orde kedua, maka peluang investasi pembangunan kawasan perdagangan dan jasa sangat menjanjikan.
Sejalan dengan pengembangan Kawasan Passo sebagai Kota Orde Kedua memiliki akses yang sangat besar untuk menciptakan peluang bagi investor mengembangkan sektor perdagangan dan jasa. Karena kawasan ini akan didukung dengan ketersediaan terminal transit serta adanya alokasi ruang yang cukup serta potensial bagi pengembangan permukiman baru sehingga peluang investasi yang memiliki prospek adalah pembangunan kawasan perdagangan dan jasa.
Peternakan[sunting | sunting sumber]
Populasi ternak yang diusahakan selama tahun 2008, terdiri dari ternak besar yaitu : Sapi 640 ekor, Kerbau 61 ekor, sedangkan untuk ternak kecil yaitu Kambing 853 ekor, Babi 1.883 ekor. Untuk jenis unggas yaitu Itik 890 ekor dan Ayam 66.848 ekor.
Investasi pada subsektor peternakan dapat dilakukan pada bagian hulu dan bagian hilir, di mana untuk ternak besar dapat dikembangkan usaha peternakan dan usaha penggemukan sedangkan pada bagian hilir dapat dikembangkan usaha pengolahan dalam bentuk industri pengolahan daging abon atau dendeng. Untuk ternak unggas, usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha peternakan perdagangan pakan ternak pada bagian hulu dan pada bagian hilir adalah usaha rumah makan/restoran.
Industri[sunting | sunting sumber]
Industri dibidang pengolahan ikan/perikanan merupakan idustri utama. Industri di Ambon sebagian besar masih merupakan industri rumahan (Home Industri). Produk-produk industri kota Ambon antara lain makanan, produk tekstil/konveksi, pengolahan ikan, pembekuan ikan, kerajinan tangan dan furniture (meubeler)
Energi[sunting | sunting sumber]
Kondisi hidrologi Ambon dicirikan oleh banyaknya sungai yang mengalir dari pegunungan dan bermuara di Teluk Ambon dan Teluk Dalam. Beberapa sungai besar yang memiliki daerah aliran cukup jauh serta debit yang potensial antara lain : Wai Ruhu dengan debit 35,05 m³/detik, Wai Batu Gajah dengan debit 20 m³/detik serta Wai Tonahitu dengan debit 19,50 m³/detik.
Potensi investasi kelistrikan yang dapat dikembangkan adalah penyediaan mikro hidro untuk penambahan daya listrik dengan memanfaatkan sungai yang memiliki potensi debit cukup besar diantaranya ketiga sungai di atas.
Perumahan[sunting | sunting sumber]
Bertambahnya jumlah penduduk serta makin membaik strata kehidupan sosial ekonomi masyarakat Ambon dengan pola konsumsi yang sangat tinggi berdampak pada tuntutan kebutuhan papan (rumah) yang sehat dengan lingkungan yang baik. Beberapa kawasan pengembangan sesuai arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon yang merupakan sentra pertumbuhan baru dan potensial seperti kawasan Passo dengan lahan yang sangat datar telah dicadangkan untuk kawasan pertumbuhan baru bukan saja bagi sektor perdagangan dan jasa namun juga bagi sektor-sektor lainnya termasuk sektor perumahan dan permukiman.
Kawasan Passo sebagai Kota Orde Kedua memiliki keunggulan spatial dan potensi yang sangat besar untuk prospek pengembangan perumahan dan permukiman baru baik itu rumah tinggal maupun rumah toko (Ruko). Pengembangan kawasan ini karena ditunjang dengan kemampuan daya dukung lahan yang tersedia serta adanya rencana Pemerintah Kota untuk mengembangkan kawasan Passo sebagai pusat aktivitas ekonomi baru.
Kota kembar[sunting | sunting sumber]
Kota-kota baik dalam negeri maupun negeri tetangga yang menjadi bagian dari proyek kota kembar dengan kota Ambon,Maluku adalah:
Proyek ini telah menjadi ajang saling tukar-menukar informasi dan perundingan untuk membincangkan berbagai masalah ekonomi dan perkotaan. Berbagai kerangka kerjasama antara kota bersaudara, kenyataannya terus berkembang dalam bidang-bidang yang semakin luas, baik sosial maupun pendidikan serta wisata dll.
Kota Ambon, Kupang, Manado dan Jayapura sebagai kota-kota utama di Indonesia bagian timur menghadapi permasalahan di bidang sosial, kelautan, transportasi laut, wisata dan tata perkotaan, maka dengan adanya proyek kota kembar ini diharapkan kota-kota terbaik dapat saling membantu memecahkan masalah-masalah yang ada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar